Pilpres 2019 dan Harapan Baru Rakyat

Pilpres 2019 dan Harapan Baru Rakyat

BEBERAPA tahun lamanya rakyat Indonesia disuguhkan oleh cerita pertentangan idiom-idiom hantu ideologi lama dan SARA yang begitu sensitif menampar kehidupan berbangsa dan bernegara, di tengah heterogenitas bangsa Indonesia yang tidak dapat dinafikan sebagai sebuah alamiyahnya hukum dan sunnatullah.

Ujaran kebencian, saling bully, dan hoaks atas nama SARA begitu memasuki level mutawatir sehingga sangat material menjadi pertentangan di tengah tengah rakyat. Semua pihak miris, akan tetapi juga tidak berdaya dengan kemunculan-kemunculan dampak dari pertentangan tersebut. Jargon-jargon perdamaian dan persatuan nasional seolah tidak nyaring di tengah hiruk pikuk dan bisingnya saling hujat.

Eskalasi kebisingan situasi berbangsa bernegara dalam balutan SARA dan ideologi tertentu tersebut, memiliki momentumnya pada kutub pilihan-pilihan politik perebutan tahta kepala daerah seantero jagat nusantara. Dan semua itu hanyalah warming up bagi perhelatan sesungguhnya di Pemilu 2019.

Sekian banyak manusia Indonesia sudah merasa yakin bahwa kutub SARA dan hantu-hantu ideologi lama akan dimainkan kembali demi meraup suara di 2019. Tentu saja, para elite politik kita dari masing-masing kubu terus menerus pasang kuda-kuda dan memutar otak-atik strategi jitu untuk memenangkan pertempuran.

Sejak masuk Agustus 2018 menjadi bulan krusial bagi mematangkan stratak. Alhasil, kubu Jokowi menggandeng Kyai Ma’ruf Amin (KMA) sebagai cawapres dan kubu Prabowo menggaet Sandiaga Uno. Dengan pasangan-pasangan capres dan cawapres masing-masing kubu tersebut tentu tidak mudah memafhumi teka teki politiknya, karena ketika dengan asumtif siapapun kita mencoba membedahnya akan muncul kemudian hoaks dan pelintiran-pelintiran baru yang sungguh sangat tidak penting bagi rakyat.

Yang menggembirakan dan paling tidak bisa kita buat gembira di tengah tengah rakyat adalah, bahwa kemunculan KMA menjadi pasangan Jokowi dan Sandiaga Uno menjadi pasangan Prabowo, merupakan angin segar perhelatan Pemilu 2019.

Pemilu 2019, dengan dua pasangan capres dan cawapres tersebut tentu akan meminimalisir pertentangan SARA yang tidak perlu. Jokowi menggandeng KMA diyakini bukan hanya terkait dengan logika stratak SARA semata, dikarenakan kubu Prabowo begitu gandrung mendesain gerakan-gerakan bersimbolkan Islam dan ijtima ulama.

Yang manarik bagi saya sesungguhnya, dalam menilai kepentingan rakyat dalam pemilu 2019 adalah, baik Jokowi dan Prabowo menggandeng sosok yang gandrung akan kerja-kerja ekonomi. Sosok KMA adalah ulama yang memiliki pemahaman mumpuni akan ekonomi politik keumatan dan mampu menjadi konsolidator kebangsaan bersama penguatan narasi Indonesia sebagai negara kesepakatan. Sementara Sandiaga Uno adalah tokoh muda yang berhasil pula membangun kekuatan bisnisnya, dan tentu saja menjadi profil enerjik bagi kalangan muda Indonesia.

Dari hal itulah, saya melihat ada harapan baru pertarungan pemilu Indonesia tidak melulu membenamkan diri pada pertentangan hantu-hantu ideologi lama dan SARA yang sesungguhnya tidak bergaris lurus pada makna kepentingan rakyat yang sejati. Pertarungan programatik bagi rakyat tentu akan sangat dinanti dalam perdebatan dan adu program kedua pasangan ini, berikutnya rakyat akan menilai mana yang pokok untuk rakyat dan mana yang tidak.

Dari pasangan keduanya, semoga saja melahirkan gagasan-gagasan canggih demi kepentingan rakyat Indonesia. Kubu Jokowi sebagai petahana, terlepas dari segala kelemahan dan kelebihannya dalam membangun Indonesia, sesungguhnya tinggal selangkah lagi mendesain kepentingan produktifitas ekonomi nasional melalui pengembangan industri nasional dan penataan kedaulatan tanah bagi rakyat yang berkorelasi dengan kepentingan produktifitas ekonomi nasional tersebut.

Sementara kubu Prabowo tentu diharapkan menyuguhkan gagasan-gagasan kritis lebih maju bagi kepentingan rakyat, terutama kreatifitas programatik ekonomi politiknya yang selalu Prabowo anggap bahwa Indonesia tengah terancam oleh krisis kedaulatan.

Kesemuanya itu tentu saja diharap mampu berpijak pada landasan geo strategi, geo ekonomi, dan geo politik Indonesia dalam kancah kehidupan Internasional.

Semoga saja. Aamiin YRA.

Penulis: Yosep Yusdiana, alumni Ponpes Cijantung Ciamis, mantan Ketua PMII Jabar, mantan wakil Ketua PW GP Ansor Jabar, saat ini menjabat sebagai sekretaris PW ISNU Jabar.

Foto: Istimewa (Islampos)

kabar9
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

1 Comment